fbpx

Aqiqah Nurul Hayat

Solusi Untuk Fenomena LGBT

lgbt

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau LGBT adalah fenomena yang sudah ada sejak lama. Hal ini juga menjadi bagian dari takdir yang harus dihadapi Nabi Luth As. atas keberadaan kaum yang menyimpang dari fitrah seksual manusia. Berjalannya waktu, populasi yang teridentifikasi sebagai LGBT telah meluas di penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Mungkin anda akan terkejut dengan hasil survei CIA pada tahun 2015, bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat LGBT tertinggi ke-5 di dunia.

Keberadaan mereka menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro, merasa bahwa LGBT ini juga berhak dipayungi oleh perlindungan HAM. Dalil kesetaraan serta kebebasan dalam konsep HAM inilah yang membuat mereka menuntut untuk diperlakukan sebagaimana manusia “normal”.

Kita pahami dulu apa itu LGBT, bagaimana hal ini bisa tumbuh dalam diri seseorang, apakah ini sebuah penyakit mental atau pengaruh genetik?. Bagaimana dunia medis, masyarakat, dan Islam dalam menanggapi hal ini?.

Baca juga: Cara Mendidik Anak Ketika Memasuki Usia Pubertas

LGBT Dalam Dunia Medis

Dilansir dari wikipedia.org, Charles W. Socarides, seorang dokter dan psikoanalis Amerika yang merawat pasien homoseksualitas sepanjang kariernya. Ia melaporkan bahwa “sekitar sepertiga” pasiennya menjadi heteroseksual setelah perawatan. Menurut pandangannya LGBT telah berkembang menjadi gaya hidup alternatif bagi masyarakat. Artinya seseorang dapat menjadi LGBT dengan adanya informasi dan wawasan yang membuat pola pikir seseorang berubah dan secara tidak langsung dapat merubah orientasi seksualnya juga. Dengan demikian, LGBT dapat ditangani dengan terapi untuk merubah pola pikir mereka.

LGBT Dalam Kehidupan Sosial Bermasyarakat

pro dan kontra lgbt

Mereka yang berada pada kondisi ini, seringkali menjadi bahan cemooh dan terget diskriminasi publik. Hal ini juga yang pada akhirnya menyebabkan pecahnya pemberontakan Stonewall oleh kaum LGBT di Amerika pada tanggal 27 Juni 1969. Dan agaknya ini juga yang memaksa American Psychiatric Association untuk menghapus kategorisasi LGBT/homoseksual sebagai bagian dari penyakit mental.

Dalam hal ini, Socarides secara vokal menentang keputusan American Psychiatric Association untuk menghapus homoseksualitas dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental dan ia terus melabeli homoseksualitas sebagai penyakit mental. Pada tahun 1992, Socarides mendirikan National Association for Research & Therapy of Homosexuality bersama Joseph Nicolosi dan Benjamin Kaufman. Socarides juga berbicara di depan umum tentang penentangannya terhadap gerakan hak-hak gay , yang ia yakini akan merusak peran gender masyarakat dan keluarga.

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang beragam terhadap LGBT. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang pro LGBT berpendapat bahwa LGBT adalah hak asasi manusia yang harus dihormati, sedangkan masyarakat yang kontra LGBT melihat perilaku LGBT sebagai sesuatu yang bertentangan dengan norma agama dan budaya.

Baca juga: Bahaya, Dampak Langsung Tidur Setelah Makan

LGBT Dalam Perspektif Islam

lgbt

Manusia diciptakan secara berpasang-pasangan, laki-laki dengan perempuan. Allah Swt. telah mendesain fitrah manusia ini sebagaimana yang telah dianugerahkan-Nya. Fitrah manusia yang memiliki sisi kemanusiaan dan beradab inilah yang sejatinya harus diwariskan kepada penerusnya, untuk mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Laki-laki dan perempuan dianugerahi sifat dan wataknya sendiri untuk menjalankan kewajibannya. Laki-laki dengan ketangkasan dan wibawanya diharapkan menjadi pemimpin, mulai dari bagian terkecil yaitu keluarga, atau bahkan menjadi pemimpin negara. Dan perempuan yang memiliki sisi feminim, memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Sifat keibuan, kelembutan, dan empati yang dimiliki perempuan menjadikannya sebagai sosok yang mampu memberikan kasih sayang, perhatian, serta dukungan emosional bagi keluarga. Selain itu, perempuan juga berperan dalam mendidik anak-anak, menanamkan nilai-nilai moral, dan membentuk generasi masa depan yang berakhlak mulia.

Meskipun peran laki-laki dan perempuan berbeda, keduanya saling melengkapi satu sama lain dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk bekerja sama, membangun kehidupan yang seimbang, serta menciptakan lingkungan yang harmonis. Dengan menghargai dan menjalankan peran masing-masing sesuai fitrahnya, laki-laki dan perempuan dapat mencapai tujuan hidup yang mulia dan menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur dalam masyarakat.

Setiap generasi lahir dari rahim seorang ibu yang dikandung dari benih seorang ayah. Hal ini merupakan fitrah yang bahkan kaum non muslim-pun mengakuinya. Lalu bagaimana kita akan membuahkan keturunan yang diharapkan menjadi generasi terbaik, jika menyimpang dari yang telah ditetapkan.

Baca juga: Adab Menegur Istri Dalam Islam : Mencegah Perilaku KDRT

Bagaimana Kita Berkiblat

Tentunya tindakan diskriminasi dan kekerasan tidak perlu kita perlakukan pada mereka. Orang-orang seperti Socarides telah memberi kontribusi penting dalam memahami masalah ini dari sudut pandang yang lebih empatik. Ustadz Adi Hidayat dalam kajian lewat channel youtubenya, memberi pandangannya dalam menangani kelainan ini, dengan memberi arahan terhadap orang-orang yang yang mengalami kondisi homoseksual, memberi terapi, memberi pencerahan agar mereka dapat kembalik ke fitrahnya.

Jika Anda mengidap kelainan ini dan ingin segera sembuh namun merasa sulit. Penting untuk memahami bahwa ada harapan dan jalan keluar. Langkah-langkah konkret seperti mengikuti terapi, berkonsultasi dengan ahli, serta terus berdoa dan berharap pada pertolongan-Nya, dapat membantu Anda menuju kesembuhan.

Dan bagi anda yang merasa LGBT adalah jalan kebahagiaan bagi anda. Coba renungkan kembali apa yang akan terjadi.  Anda akan kehilangan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan sejati yang berasal dari membangun keluarga yang utuh dan harmonis. Anda mungkin merasa puas sesaat, namun dalam jangka panjang, ada dampak sosial dan psikologis yang mungkin Anda abaikan. Hubungan yang tidak sesuai dengan fitrah manusia dapat menimbulkan perasaan hampa, karena tidak sesuai dengan kodrat alami manusia untuk berpasangan dengan lawan jenis dan melahirkan keturunan.

Selain itu, Anda juga mungkin menghadapi stigma sosial dan tantangan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup Anda. Dalam lingkungan yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional dan agama, pilihan Anda mungkin menjadi sumber konflik, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

Pikirkan kembali masa depan yang akan Anda hadapi jika terus menempuh jalan ini. Mungkin saat ini Anda merasa bebas dan bahagia, tetapi kebahagiaan sejati adalah ketika Anda menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang telah teruji oleh waktu, yang membawa ketentraman batin, dan harmoni dalam masyarakat.

 

 

Untuk pemesanan Aqiqah praktis dan hemat bisa klik disini.

Aqiqah PALEMBANG

Jasa aqiqah No #1 Terbesar di Indonesia yang memiliki 52 Cabang tersebar di pelosok Nusantara. Sudah menjadi Langganan Para Artis.

KANTOR PUSAT

FOLLOW US

Follow dan subscribe akun sosial media kami, dan dapatkan Give Away setiap minggunya

Copyright © 2024 Aqiqah Nurul Hayat